Warga Lebung Itam Terdampak HTI, Kerugian Ekonomi hingga Sosial Terus Berlanjut
Palembang– Hasil penelitian yang dilakukan secara partisipatif di Desa Lebung Itam, Kecamatan Tulung Selapan, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), mengungkap berbagai bentuk kerugian ekonomi, lingkungan, sosial, budaya, hingga kesehatan yang dialami masyarakat akibat aktivitas industri Hutan Tanaman Industri (HTI) APP Group.
Temuan tersebut dipaparkan dalam rapat hasil penelitian Analisis Loss & Damage dalam Pengawalan Implementasi FSC pada Konsesi APP Group di Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan yang digelar pada Kamis, 18 Juni 2026.
Ketua Tim Peneliti, Dr. Ir. Yulian Junaidi, M.Si. menjelaskan bahwa penelitian dilakukan dengan pendekatan partisipatif yang melibatkan masyarakat Desa Lebung Itam sejak tahap perencanaan, pengumpulan data, hingga validasi hasil penelitian. Penelitian bertujuan mendokumentasikan berbagai kerugian yang dialami masyarakat sebagai dasar penguatan posisi warga dalam proses pemulihan hak melalui skema FSC Remedy Framework.
“Penelitian ini dirancang secara partisipatif dengan melibatkan masyarakat sejak awal. Tujuannya untuk mendokumentasikan berbagai bentuk kerugian yang dialami warga akibat aktivitas industri HTI sehingga dapat menjadi basis evidensi dalam memperjuangkan pemulihan hak masyarakat,” ujarnya
Lahan Menyusut, Pendapatan Warga Turun
Salah satu tim peneliti, Wahyu Saputra. S.Sos., M.A mengungkapkan bahwa salah satu temuan utama penelitian adalah terjadinya penyusutan lahan kelola masyarakat setelah ekspansi industri HTI. Kepemilikan lahan yang sebelumnya relatif luas kini didominasi oleh luasan di bawah lima hektare.
Selain itu, pembangunan kanal dan perluasan konsesi disebut telah membatasi akses masyarakat terhadap lahan produksi dan kawasan rawang yang selama ini menjadi sumber penghidupan warga.
“Pendapatan masyarakat mengalami penurunan drastis dibandingkan sebelum masuknya perusahaan. Banyak komoditas lokal seperti padi sonor, karet, ikan, madu, hasil hutan, hingga ternak yang kini semakin sulit diperoleh,” kata Wahyu Saputra.
Penelitian yang menggunakan metode mixed methods dengan melibatkan 67 responden dan 10 informan kunci itu juga mencatat tingginya ketergantungan masyarakat terhadap lahan kelola sebagai sumber ekonomi utama.
Ancaman Karhutla dan Krisis Lingkungan
Dari aspek lingkungan, penelitian menemukan masyarakat menghadapi berbagai bencana ekologis yang terjadi berulang, mulai dari kekeringan, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), degradasi ekosistem gambut, hingga menurunnya kualitas serta akses terhadap air bersih.
Peneliti menyebut sebagian besar titik kebakaran berada di area konsesi HTI dan terus berpindah lokasi dari tahun ke tahun. Kondisi tersebut dinilai memperparah kerusakan gambut sekaligus meningkatkan risiko bencana ekologis bagi masyarakat sekitar.
Dampak lainnya adalah meningkatnya gangguan kesehatan masyarakat, seperti Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), asma, batuk berkepanjangan, dan berbagai penyakit lain yang berkaitan dengan kebakaran hutan serta penurunan kualitas lingkungan.
Konflik Sosial dan Hilangnya Pengetahuan Lokal
Penelitian juga mengungkap dampak sosial yang cukup serius. Warga mengalami tingkat stres dan kecemasan yang tinggi akibat kehilangan lahan, menurunnya pendapatan, serta konflik yang berlangsung dalam waktu lama. Selain konflik antara masyarakat dan perusahaan, muncul pula konflik antarwarga yang dipicu perbedaan kepentingan dan ketidakadilan dalam penyelesaian sengketa.
Dari sisi budaya, praktik dan pengetahuan lokal seperti padi sonor disebut semakin terancam hilang. Berkurangnya akses masyarakat terhadap wilayah kelola menyebabkan proses pewarisan pengetahuan tradisional kepada generasi muda semakin terputus.
Warga Benarkan Temuan Penelitian
Perwakilan masyarakat Desa Lebung Itam menyatakan hasil penelitian tersebut sesuai dengan kondisi yang mereka alami selama bertahun-tahun.
“Fakta mengenai penyusutan lahan, hilangnya akses ke wilayah rawang, menurunnya pendapatan, hingga meningkatnya konflik sosial memang kami rasakan secara langsung. Kami berharap hasil penelitian ini menjadi dasar perjuangan masyarakat untuk memperoleh keadilan dan pemulihan atas kerugian yang selama ini kami alami,” ujar perwakilan masyarakat.
Masyarakat juga menyampaikan bahwa kebakaran lahan dan kekeringan hampir terjadi setiap tahun, sementara kasus ISPA dan gangguan kesehatan terus meningkat, terutama pada anak-anak dan kelompok rentan.
Dorong Valuasi Kerugian dan Penguatan Advokasi
Dalam sesi diskusi, Belgis Habiba dari Greenpeace Indonesia menilai temuan mengenai tingkat stres masyarakat merupakan aspek penting yang selama ini jarang terdokumentasikan dalam penelitian konflik sumber daya alam.
“Perlu dilakukan analisis lebih lanjut terkait hubungan antara hilangnya akses sumber penghidupan dengan kondisi psikologis masyarakat. Selain itu, penelitian ini sebaiknya dilanjutkan dengan proses valuasi kerugian agar nilai ekonomi dari berbagai dampak yang dialami masyarakat dapat dihitung secara lebih komprehensif,” ujar Belgis.
Sementara itu, Ivan dari LBH Palembang mengapresiasi pendekatan partisipatif yang digunakan dalam penelitian.
“Hasil penelitian ini memiliki nilai penting sebagai dokumen pendukung advokasi masyarakat dan dapat digunakan untuk memperkuat argumentasi dalam penyelesaian konflik agraria maupun pengawalan implementasi FSC Remedy,” kata Ivan.
Pada akhir kegiatan, peserta diskusi sepakat agar hasil penelitian dijadikan dokumen resmi pendukung advokasi masyarakat Desa Lebung Itam, menjadi dasar pengawalan implementasi FSC Remedy Framework, serta dikembangkan lebih lanjut melalui kajian valuasi kerugian untuk menghitung besaran loss and damage yang dialami warga.
