Mengasah Kemampuan Berpikir Kritis dan Analisis Sosial Melalui Kelas Hijau RAWANG
Palembang- Upaya membangun kesadaran kritis dan kemampuan kepemimpinan di kalangan masyarakat terus didorong melalui kegiatan Kelas Hijau Rawang. Dalam kegiatan yang digelar baru-baru ini, peserta mendapatkan pembekalan mengenai cara berpikir efektif, analisis sosial, organisasi, kepemimpinan, hingga dasar-dasar community organizing.
Pemateri kegiatan, Zelvan Ramadhan, menjelaskan bahwa kemampuan berpikir kritis menjadi fondasi penting dalam memahami berbagai persoalan yang terjadi di tengah masyarakat. Menurutnya, seseorang tidak cukup hanya melihat sebuah peristiwa dari permukaannya saja, tetapi harus mampu memahami faktor-faktor yang melatarbelakanginya.
“Sering kali masyarakat hanya melihat dampak dari sebuah persoalan. Padahal, untuk menemukan solusi yang tepat, kita harus mampu mengidentifikasi akar masalah dan memahami hubungan antara faktor sosial, ekonomi, politik, maupun budaya yang memengaruhinya,” ujar Zelvan Ramadhan saat menyampaikan materi.

Dalam sesi cara berpikir efektif, peserta diperkenalkan pada konsep filsafat, ideologi, paradigma, dan ilmu pengetahuan sebagai dasar dalam membangun pola pikir yang sistematis. Materi tersebut juga membahas tiga tingkatan kesadaran manusia menurut Paulo Freire, yakni kesadaran magis, kesadaran naif, dan kesadaran kritis.
Zelvan menjelaskan bahwa kesadaran kritis merupakan tahapan yang perlu dibangun agar masyarakat mampu melihat persoalan secara lebih utuh.
“Kesadaran kritis membantu kita memahami bahwa berbagai persoalan yang terjadi tidak selalu disebabkan oleh individu semata, melainkan juga dipengaruhi oleh sistem dan struktur yang ada. Dari situlah muncul kemampuan untuk menganalisis dan mendorong perubahan,” katanya.

Selain membahas pola pikir kritis, kegiatan tersebut juga mengupas metode analisis sosial sebagai alat untuk membaca situasi masyarakat secara lebih mendalam. Peserta diajak memahami bagaimana mengidentifikasi akar persoalan, memetakan pihak-pihak yang terlibat, serta menelaah faktor sejarah, struktur sosial, nilai-nilai, hingga kemungkinan perkembangan suatu persoalan di masa mendatang.
Menurut Zelvan, analisis sosial bukan hanya menjadi kebutuhan akademisi, tetapi dapat dilakukan oleh siapa saja yang ingin terlibat dalam upaya perubahan sosial.
“Orang yang paling dekat dengan persoalan sering kali justru memiliki informasi paling kaya untuk melakukan analisis. Karena itu, analisis sosial tidak boleh dianggap sebagai milik kalangan kampus semata. Masyarakat juga harus mampu melakukannya,” tegasnya.

Materi berikutnya membahas pentingnya organisasi sebagai wadah kerja bersama dalam mencapai tujuan yang lebih besar. Dalam sesi ini, peserta dikenalkan dengan struktur organisasi, manajemen organisasi, hingga berbagai model kepemimpinan yang dapat diterapkan sesuai kebutuhan.
Zelvan menekankan bahwa organisasi yang kuat tidak hanya dibangun oleh struktur yang baik, tetapi juga oleh kepemimpinan yang mampu menggerakkan anggotanya.
“Seorang pemimpin tidak hanya memberi instruksi. Ia harus mampu menjadi teladan, membangun komunikasi, menyatukan visi, dan menciptakan ruang partisipasi bagi seluruh anggota organisasi,” ujarnya.
Melalui pelatihan tersebut, peserta diharapkan mampu meningkatkan kemampuan berpikir secara logis dan kritis, memahami kondisi sosial di sekitarnya, serta memiliki kapasitas untuk mengorganisir masyarakat dan mendorong perubahan yang lebih baik.
Kegiatan Kelas Hijau ini menjadi bagian dari upaya penguatan kapasitas masyarakat agar mampu berperan aktif dalam menyikapi berbagai persoalan sosial secara terukur, kritis, dan berorientasi pada solusi.
