FGD Kajian Dampak Lingkungan di OKI Soroti Konflik Lahan dan Kerugian Masyarakat
Palembang— Focus Group Discussion (FGD) terkait kajian dampak ekonomi, sosial, dan lingkungan (loss and damage) di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, digelar pada 30 April 2026 di Sekretariat Rawang. Kegiatan ini membahas rencana kajian lapangan sekaligus penyusunan instrumen penelitian yang akan digunakan.
Diskusi yang menghadirkan sekitar 10 pembicara utama ini menyoroti masih tingginya konflik lahan antara masyarakat dan perusahaan di sejumlah wilayah terdampak. Berdasarkan temuan awal, dari sekitar 10 desa yang dikaji, sebanyak 5 hingga 6 desa masih mengalami konflik yang berdampak langsung pada kehidupan warga.
Selain konflik lahan, peserta FGD juga mengidentifikasi berbagai persoalan lain seperti kebakaran hutan dan lahan, pencemaran air, hilangnya lahan produktif, hingga penurunan mata pencaharian masyarakat. Kondisi tersebut dinilai memperburuk situasi sosial dan ekonomi warga setempat.
Salah satu pemateri dalam diskusi menyampaikan bahwa kajian ini bertujuan menghasilkan data berbasis bukti (evidence-based) guna memperkuat posisi masyarakat dalam proses pemulihan (remedi). “Kajian ini diharapkan dapat memastikan hak masyarakat terpenuhi serta menghadirkan data tandingan dari masyarakat,” ujarnya dalam forum.
Dalam penyusunannya, kajian akan menggunakan tiga dimensi utama, yakni ekonomi, sosial-budaya, dan lingkungan. Aspek ekonomi mencakup pendapatan serta kehilangan aset dan mata pencaharian, sementara aspek sosial-budaya melihat perubahan sosial, tingkat stres, dan hilangnya praktik budaya. Adapun aspek lingkungan menyoroti kerusakan hutan, akses air, dan perubahan ekosistem.
Metodologi pengumpulan data akan dilakukan melalui observasi, kuesioner, wawancara, diskusi kelompok (FGD), serta studi dokumen. Targetnya, sekitar 150 responden dari kurang lebih 10 desa terdampak akan dilibatkan dengan estimasi waktu pengumpulan data selama 12 hari.
Meski demikian, sejumlah tantangan turut mengemuka dalam diskusi, di antaranya belum jelasnya metode sampling responden, kompleksitas instrumen penelitian, serta kesulitan mengukur dampak non-material seperti budaya dan kearifan lokal. Untuk mengatasi hal tersebut, peserta mengusulkan penggunaan skala persepsi serta penyederhanaan instrumen agar lebih mudah diterapkan di lapangan.
FGD ini menyimpulkan bahwa kajian yang dilakukan sangat penting untuk menyediakan data yang kuat dan relevan bagi masyarakat. Namun, instrumen penelitian masih perlu disederhanakan dan diperkuat, terutama dalam hal metodologi sampling dan pendekatan pengumpulan data.
Sebagai tindak lanjut, tim akan melakukan revisi instrumen berdasarkan masukan peserta, menyiapkan tim lapangan, serta melakukan uji coba (pilot test) sebelum pelaksanaan kajian secara penuh.
